Makam Mbah Sayid Sulaiman di Mojoagung

Makam Mbah Sayyid Sulaiman sering kali dikunjungi para peziarah dengan berbagai kepentingan, salah satunya ingin segera mendapatkan jodoh (entah bener atau ndak, penulis juga belum membuktikan). Puncak kunjungan terjadi pada malam Jumat Legi.

Makam Mbah Sayyid Sulaiman di Dusun Rejo Slamet, Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung, Jombang semakin ramai dipadati pengunjung. Mereka tidak hanya dari wilayah sekitar seperti Kediri, Blitar, Madiun, Trenggalek, Pasuruan hingga Banyuwangi, juga dari luar Jawa Timur seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat. Bahkan Sulawesi dan daerah-daerah lain.

Apa yang membuat mereka tertarik? Masing-masing pengunjung punya keyakinan berbeda ketika berziarah ke makam tersebut. Ada yang mengaku pingin mendapat berkah sehingga cepat mendapat jodoh, pingin sukses usahanya, terlepas dari semua masalah yang dihadapi, dan masih banyak alasan lainnya.

Kompleks makam yang luasnya sekitar dua hektare itu sebenarnya terletak persis di perbatasan antara Dusun Rejo Slamet dan Desa Betek. Tetapi karena sudah kadung kesohor makam tersebut terletak di Desa Betek, para pengunjung pun hingga saat ini menyebut makam Mbah Sayyid Sulaiman tersebut di Desa Betek. Padahal, makam tersebut ada di Dusun Rejo Slamet, tepatnya Desa Mancilan. Bahkan, ada cerita sebelum makam Mbah Sayyid ini dikenal banyak orang, Dusun Rejo Slamet bernama Dusun Kuburan (Makam).

“Ceritanya Dusun Rejo Slamet dulu adalah Dusun Kuburan (makam) sehingga ketika orang mau ke Rejo Slamet pasti mengatakan mau ke kuburan atau ke makam, mungkin orang-orang dulu merasa nama itu tidak enak lalu diganti dengan nama Rejo Slamet, tetapi memang sejak dulu banyak orang yang berziarah ke makam itu,” kata Tajul Arifin, tokoh masyarakat desa setempat.

Silsilah

Siapa sebenarnya Mbah Sayyid Sulaiman? Silsilahnya, ia adalah keturunan Rasulullah urut ke-26. Dia wafat pada 17 Rabiulawal 1193 H atau 24 Maret 1780 M pada hari Jumat legi. Ibunya seorang putri Sultan Cirebon, dia juga pernah menjabat qadli di Kanigoro Pasuruan.

Menurut keterangan, sewaktu Mbah Sayyid ziarah ke makam Mbah Alief yang terletak di desa tersebut, Mbah Sayyid Sulaiman hingga wafat dan dimakamkan di tempat itu pula. Karena itu, tulisan silsilah yang terpampang di ruang juru kunci tersebut menyebutkan, bagaimana tata krama berziarah terlebih dahulu lalu raden atau Mbah Alief baru kemudian ke Makam Mbah Sayyid Sulaiman yang jaraknya tidak jauh dari makam Mbah Alief.

Kompleks makam yang dilengkapi mushalla berukuran agak besar tersebut semakin menambah kerasan para peziarah, tak jarang para peziarah bermalam di situ.

Meski hari-hari biasa ada juga yang bermukim barang satu sampai tiga hari. Mushala tersebut juga menjadi jujukan para musafir yang melakukan perjalan, beberapa saat mereka beristirahat dan berziarah setelah itu merekapun berangkat lagi.

Puncak kegiatan bersama yakni pada Jumat Legi, peziarah diajak melakukan istighatsah dan tahlil bersama. Ternyata ini juga menjadi daya tarik tersendiri, terbukti beberapa rombongan dari luar Jawa Timur, baik itu dari Sulawesi, Sumatera, Jakarta dan lain-lain juga datang pada Jumat legi, sehingga ribuan masa tumplek blek melakukan istighatsah dan tahlil bersama.

“Puncaknya memang pada Jumat Lagi, ribuan para peziarah datang kemari. Seringkali yang datang dari luar jawa memang orang-orang dari transmigran, tetapi aslinya memang dari sekitar Jombang, bersama rombongan dengan mengendari bus mereka datang kemari,” kata Yasin.




Artikel Terkait

Facebook Comment